just forwad
FYI,

Indonesiaku yang tetap terjajah…: (

NEGARA AMERIKA DIBANGUN DARI EMAS PAPUA
Diposkan oleh ARKILAUS
ARNESIUS BAHO Minggu, 24 Januari 2010

Oleh: Subhan Hassannoesi
Aktivis Dakwah Papua yang juga anggota Majelis Muslim
Papua ( MMP )

Freeport adalah pertambangan emas terbesar di dunia! Namun termurah dalam biaya operasionalnya. Sebagian
kebesaran dan kemegahan Amerika sekarang ini adalah hasil perampokan
resmi mereka atas gunung emas di Papua tersebut. Freeport banyak berjasa bagi segelintir pejabat negeri ini, para jenderal dan juga para politisi busuk, yang bisa menikmati hidup dengan
bergelimang harta dengan memiskinkan bangsa ini. Mereka ini tidak lebih baik daripada seekor lintah!

Akhir tahun 1996, sebuah
tulisan bagus oleh Lisa Pease yang dimuat dalam majalah Probe.
Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC.
Judul tulisan tersebut adalah “JFK, Indonesia , CIA and Freeport .”

Walau dominasi Freeport atas gunung emas di Papua
dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di negeri ini sudah
dimulai beberapa tahun sebelumnya. Dalam tulisannya, Lisa Pease mendapatkan temuan jika Freeport Sulphur, demikian nama
perusahaan itu awalnya, nyaris bangrut berkeping-keping ketika
terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959.

Saat itu
Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan
pengapalan nikel produksi perdananya terkena imbasnya. Ketegangan terjadi.
Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun berkali-kali pula
menemui kegagalan.

Ditengah situasi yang penuh
ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur
pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu
Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang
ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda. Van Gruisen tertarik dengan
laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan membacanya.

Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pemimpin Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu
melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya diseluruh dunia, maka
kandungan biji tembaga yang ada disekujur tubuh Gunung Ersberg itu
terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam
tanah. Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera
melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita
itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka
perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan
yang sudah di depan mata.

Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey dengan seksama atas Gunung Ersberg dan
juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya
dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain.
Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah. Dari udara, tanah disekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari.

Wilson juga mendapatkan temuan yang
nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga,
gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak!!
Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama GOLD
MOUNTAIN , bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan,
Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar dalam waktu
tiga tahun sudah kembali modal. Pimpinan Freeport Sulphur ini
pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960, Freeport
Sulphur meneken kerjasama dengan East Borneo Company untuk
mengeksplorasi gunung tersebut.

Namun lagi-lagi Freeport Sulphur
mengalami kenyataan yang hampir sama dengan yang pernah dialaminya
di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas
dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat.

Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada
Presiden AS John Fitzgerald Kennedy agar mendinginkan Irian Barat.
Namun ironisnya, JFK malah sepertinya mendukung Soekarno.
Kennedy mengancam Belanda, akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali
negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II
terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.

Ketika itu
sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya
mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda
mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibanding nilai
emas yang ada di gunung tersebut.

Dampak dari sikap Belanda
untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama
dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pemimpin Freeport jelas marah besar.. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan
paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan!

Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22 November
1963. Banyak kalangan menyatakan penembakan Kennedy merupakan
sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang hendak mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika.

Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil sikap yang bertolak belakang dengan
pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia , kecuali kepada militernya. Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan
presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C.Long, salah seorang
anggota dewan direksi Freeport .

Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia . Selain kaitannya dengan Freeport , Long juga memimpin Texaco, yang membawahi
Caltex (patungan dengan Standard Oil of California). Soekarno
pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia . Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh
kebijakan Soekarno ini.

Augustus C.Long amat marah terhadap
Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya.
http://berita. / liputan6. com/progsus/ 200209/41945/ class=%27vidico% 27

Mungkin suatu
kebetulan yang ajaib. Augustus C.Long juga aktif di Presbysterian
Hospital di NY dimana dia pernah dua kali menjadi presidennya
(1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan
salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.

Lisa Pease dengan
cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 1964
sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pemimpin Texaco. Apa
saja yang dilakukan orang ini dalam masa itu yang di Indonesia
dikenal sebagai masa yang paling krusial.

Pease mendapatkan data jika pada Maret 1965, Augustus C.Long terpilih sebagai
Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Augustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelejen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri. Badan ini
memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS
di Negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh
yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS
dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang
disebutnya sebagai Our Local Army Friend.

Salah satu bukti
sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan jika kelompok Jenderal Suharto akan mendesak
angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu
Soekarno berhalangan. Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi jika hal itu benar adanya.

Awal November
1965, satu bulan setelah tragedi terbunuhnya sejumlah perwira
loyalis Soekarno, Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan
Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan apakah
Freeport sudah siap mengekplorasi gunung emas di Irian Barat.
Wilson jelas kaget. Ketika itu Soekarno masih sah sebagai presiden
Indonesia bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung
emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport ?

Lisa
Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata
sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran
elit Indonesia . Mereka adalah Menteri Pertambangan dan
Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. Orang yang terakhir ini
berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport .
Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka.

Sebab itulah, ketika UU no 1/1967 tentang
Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss
yang didektekan Rockefeller, disahkan tahun 1967, maka
perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Suharto adalah
Freeport !. Inilah kali pertama kontrak pertambangan yang baru dibuat. Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing
selalu menguntungkan Indonesia , maka sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah merugikan Indonesia .

Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya
itu, Freeport mengandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John McCone
memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards
Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978.

Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran
milik “Jim Bob” Moffet dan menjadi perusahaan raksasa dunia dengan
laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun.

Tahun 1996,
seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A.Maley, menulis sebuah buku berjudul “Grasberg” setelab 384 halaman dan memaparkan
jika tambang emas di Irian Barat itu memiliki deposit terbesar
di dunia, sedangkan untuk bijih tembaganya menempati urutan
ketiga terbesar didunia.

Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan bijih
tembaga sebesar 40,3 miliar dollar AS dan masih akan menguntungkan 45 tahun ke depan. Ironisnya, Maley dengan bangga juga
menulis jika biaya produksi tambang emas dan tembaga terbesar di dunia
yang ada di Irian Barat itu merupakan yang termurah di dunia!!

Istilah Kota Tembagapura itu sebenarnya
menyesatkan dan salah. Seharusnya EMASPURA. Karena gunung tersebut
memang gunung emas, walau juga mengandung tembaga. Karena
kandungan emas dan tembaga terserak di permukaan tanah, maka Freeport
tinggal memungutinya dan kemudian baru menggalinya dengan sangat
mudah. Freeport sama sekali tidak mau kehilangan emasnya itu dan membangun pipa-pipa raksasa dan kuat dari
Grasberg-Tembagapur a sepanjang 100 kilometer langsung menuju ke Laut Arafuru
dimana telah menunggu kapal-kapal besar yang akan mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika. Ini sungguh-sungguh perampokan
besar yang direstui oleh pemerintah Indonesia sampai sekarang!!!

Kesaksian seorang reporter CNN yang
diizinkan meliput areal tambang emas Freeport dari udara. Dengan
helikopter ia meliput gunung emas tersebut yang ditahun 1990-an sudah berubah menjadi lembah yang dalam. Semua emas, perak, dan tembaga
yang ada digunung tersebut telah dibawa kabur ke Amerika,
meninggalkan limbah beracun yang mencemari sungai-sungai dan
tanah-tanah orang Papua yang sampai detik ini masih saja hidup bagai di
zaman batu.

Freeport merupakan ladang uang haram bagi
para pejabat negeri ini, yang dari sipil maupun militer. Sejak
1967 sampai sekarang, tambang emas terbesar di dunia itu
menjadi tambang pribadi mereka untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Freeport McMoran sendiri telah menganggarkan
dana untuk itu yang walau jumlahnya sangat besar bagi kita,
namun bagi mereka terbilang kecil karena jumlah laba dari tambang itu memang sangat dahsyat. Jika Indonesia mau mandiri, sektor inilah
yang harus dibereskan terlebih dahulu.

dari penulis yang love mama+papa

salam